QUARTER LIFE, HARUSKAH KRISIS?
Oleh : Aisyah Qusnul Khotimah (anak muda, 22)
“Muda foya-foya, tua
kaya raya, mati masuk surga”, slogan siapa?
Usia
muda memang selalu jadi bahasan banyak orang. Semuanya memang tentang aku dan
kamu, tentang kita. Menginjak masa 20 tahun, kebanyakan dari kita mulai
memikirkan masa depan yang akan ditapaki atau bahkan galau dengan masa lalu
yang udah terjadi? Ada yang lagi ngerasain?
Quarter
Life Crisis. Masa di mana seseorang yang berusia sekitar 20-an mulai mempertanyakan
hidupnya. Periode usia ini merupakan masa puncak kedewasaan, sehingga orang mulai meninjau kembali masa lalunya, apa yang telah ia
lakukan, apa yang ia dapatkan, dan bagaimana kehidupannya di masa datang. Menurut
peneliti dan pengajar Psikologi dari University of Greenwich, London, Dr.
Oliver Robinson, ada empat fase dalam Quarter Life Crisis. Pertama,
perasaan terjebak dalam suatu situasi, entah itu pekerjaan, relasi, atau hal
lainnya. Kedua, pikiran bahwa perubahan mungkin saja terjadi. Ketiga, periode
membangun kembali hidup yang baru. Fase terakhir adalah mengukuhkan yang baru
tentang ketertarikan, aspirasi, dan nilai-nilai yang dipegang seseorang.
Quarter Life Crisis, kondisi yang seringkali membuat seseorang menjadi cemas, ragu, gelisah, dan bingung terhadap tujuan hidupnya. Bahkan mulai ragu pada masa depan dan kualitas hidup, seperti pekerjaan, asmara, hubungan dengan orang lain, hingga keuangan.
Quarter Life Crisis, kondisi yang seringkali membuat seseorang menjadi cemas, ragu, gelisah, dan bingung terhadap tujuan hidupnya. Bahkan mulai ragu pada masa depan dan kualitas hidup, seperti pekerjaan, asmara, hubungan dengan orang lain, hingga keuangan.
“Tujuan hidupku
sebenernya apasih? Kok rasanya ‘flat’ gini ya?
“Cukuplah, pusing. 22
tahun harusnya kan aku bisa begini dan begitu, tapi kenapa nggak bisa apa-apa”
“Sepertinya dunia nggak
berpihak denganku.”
Ah,
ada banyak ungkapan serupa yang sering berkelana di dunia nyata dan maya. Hal
ini bukanlah sesuatu yang baru, tapi masih saja menjadi problema yang tak ada
ujungnya di berbagai kalangan. Realitasnya memang usia 20 tahunan ini, yang
merupakan generasi muda justru banyak yang depresi, labil, bahkan sampai
berujung pada bunuh diri. Parahnya, semua itu hanya karena masalah-masalah
sepele, mulai dari masalah stresnya menghadapi tekanan pendidikan sampai paling
receh karena ‘negative thinking’-nya
sendiri.
Angka depresi di seluruh dunia selalu meningkat tiap tahunnya.
Diperkirakan sekitar 300 juta orang mengidap depresi di seluruh dunia. Bahkan,
World Health Organization (WHO) memperkirakan setiap 40 detik terjadi kasus bunuh
diri di seluruh dunia yang diakibatkan oleh depresi. Ketua Perhimpunan Dokter
Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Eka Viora, SpKJ, mengatakan
untuk di Indonesia terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi
(health.detik.com). Mirisnya, pemuda banyak menyumbang angka depresi itu.
Pertanyaannya,
sebenarnya apa sih yang bikin manusia sedih atau bahagia?
Perilaku
manusia ditentukan oleh pemahamannya. Pemahaman seseorang tentang
makna bahagia akan mempengaruhi perilaku atau responnya terhadap rasa
bahagia tersebut. Terlebih lagi, setiap manusia memang memiliki naluri. Wajarlah jika ada di sebuah kondisi bahagia, kadang juga risau, atau
sedih juga. Itu bukti bahwa kita manusia biasa yang tidak bisa selamanya
‘huhuhaha’. Misalkan ketika seseorang memaknai bahagia adalah memiliki
banyak uang, maka ia akan frustasi ketika berada di masa kekurangan uang. Ada
juga yang beranggapan bahwa bahagia itu dengan melakukan sesuatu sesuka hati tanpa ada batasnya,
maka dia akan merasa cemas ketika berada di kondisi yang menurutnya
tertekan aturan dan tidak sesuai kehendaknya. Ada juga yang bahagianya ketika mampu melakukan apa yang Allah
perintahkan dan menjauhi larangan-Nya, maka kondisi ekonomi ataupun sosial tak
akan mempengaruhi ketaatannya, justru ia akan risau ketika sedikit saja
melanggar apa yang diperintahkan Allah swt.
Jadi, apakah semua
orang harus mengalami masa krisis di usia 20-an?
Tentu
tidak, karena selama kita hidup tak akan pernah lekang oleh ujian dan
tantangan. Tentu saja sudah menjadi suatu kewajaran akan naik turunnya fase
kehidupan, baik di usia remaja, 20, 30, 40, dan seterusnya. Sekali lagi ini bukan
perkara usia, tapi tentang bagaimana pemahaman kita mengenai “bahagia”. Kita butuh
meluruskan kembali visi hidup kita sesuai dengan fitrahnya sebagai seorang
hamba yang diciptakan Allah, hidup untuk Allah, dan mati juga akan kembali
kepada Allah. Mungkin kita butuh refresh lagi firman Allah swt dalam QS. Az-Zariyat
Ayat 56 tentang visi penciptaan,
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Hidup
untuk beribadah. Sebuah kalimat sederhana yang harusnya
bikin kita mikir, “Apa gunanya
aku mencemaskan, merisaukan, bahkan depresi dengan perkara-perkara yang
bersifat duniawi? Ya, apalagi, kelak ketika kembali kepada Allah,
bukan harta, tahta, atau wanita yang akan membawa kita pada kebahagiaan
sesungguhnya, melainkan hanya amal ibadah kitalah yang akan menjadi jaminan menuju surga.
Wah. Jelas aja, dulu masa Rasulullah saw, pemudanya
rela berkorban untuk agama. Kisah Mush’ab bin Umair, pemuda yang rela meninggalkan
dunia untuk Islam setidaknya menjadi pengingat bahwa harta dan rupa ini tak ada
harganya tanpa Islam. Kisah Arqom yang memfasilitasi dan mewakafkan rumahnya
untuk pembinaan Islam juga harusnya menjadi pelajaran bahwa tak ada gunanya
jika kita tak berkontribusi dalam menegakkan agama-Nya. Ah, terlalu banyak
pemuda ‘anti krisis’ di masa lalu karena kekuatan akidahnya, lurus visi
hidupnya.
Hai kamu,
eh kita yang muda, masih mau krisis pemikirannya?
Good bye Quarter
Life Crisis..
I have found
Islam. Islam is one and only solution of crisis.
Salam pemuda anti krisis!




Komentar
Posting Komentar