Menggoreng Isu 'Radikal'
Sudah berdebu rupanya.
Tetapi lama-lama tangan juga ngerasa malu, para musuh Islam terus menyerbu tetapi masih saja jemari tak bergerak untuk maju.
Bismillahirohmanirohiim..
Salam opini muda!
Ngobrolin fenomena yang lagi anget nih, soalan "RADIKAL".
Pasti udah tau lah ya penduduk dari sabang sampe merauke, bahkan sampai ke negeri antah brantah perkara kampus-kampus yang 'dituduh radikal' dan diisukan sebagai hal yang sangat mengkhawatirkan, salah satunya yang masih panas nih disebutkan sebanyak 22% mahasiswa UNEJ terpapar radikalisme (www.liputan6.com). Ngga cuma UNEJ sih, Setara Institute juga menyebutkan bahwa ada 10 kampus di Indonesia yang terpapar radikalisme (tirto.id). Nah, sebenernya apa sih radikalisme itu kok jadi bahasan diberbagai kampus?
Oke.
Berangkat dari makna radikalisme sendiri. Sepertinya udah lumayan bosen nih telinga dengerin perkara ini. dari tahun ke tahun, penjualnya makin banyak, dijajakan di berbagai event dan tempat, termasuk di perguruan tinggi. Kata radikal nih di Indonesia sering di stigmatisasi negatif oleh media, sehingga kita perlu nih mengetahui apa sih radikal itu dan mengapa radikalisme ini selalu menjadi bahan pembicaraan yang hangat. Kita juga butuh memahami siapa sih yang dimaksud penganut paham radikal ini.
Radikal ini sebenernya bermakna akar atau mengakar, yang makna luasnya yakni mendasar, pokok, dan esensial. jadi kalau dipahami sebenarnya, dari secara makna pun tidak ada penunjukkan bahwa radikal bermakna positif ataupun negatif, ibaratnya dia ini ngga proton, juga bukan elektron (eaaaa). Nah disinilah, sesuatu yang netral itu akan bernilai positif atau negatif sesuai dengan sudut pandang orang yang menilainya.
Sekarang kita mikir coba, yang selama ini diisukan radikal siapa?
Pernah denger kalimat, "Heeeii, kamu sekarang kok makin rapet gitu sih hijabnya, jangan-jangan kamu sekarang ikut kajian ke masjid X ya. Hati-hati loh radikal."
atau pernah tau kalimat, "Ssstt, jangan ngomongin islam kalau lagi bahas politik gini. Dasar radikal!"
Nahh..sekarang ada ngga yang bilang gini, "Parah! Israel nih bener-bener radikal, orang tak bersalah teganya disiksa dan dibunuh."Jadi, dari beberapa statement kebanyakan orang hari ini, yang dipandang atau mendapat label "radikal" itu adalah Islam. Ya ngga? Ngerasain juga?
Berbagai event diselenggarakan dengan tema seputar penangkalan radikalisme, bahkan dimotori oleh pemerintah sendiri. Terlebih lagi, media juga selalu memberikan "framing jahat" soalan radikalisme dan Islam. Jadi sebenernya kalau kita teliti lebih dalam dan berpikir lebih kritis, akan kita jumpai bahwa isu radikalisme ini hanyalah sebuah propaganda musuh-musuh Islam untuk menjadikan Islam sebagai pihak yang tertuduh, sehingga Islam terkesan menyeramkan dan keras. Bahkan generasi muslim pun enggan mengkaji Islam dan ogah taat dengan syariat Islam karena termakan 'gorengan anget' radikalisme itu. Endingnya apa? Umat Islam justru semakin jauh dari syariat Islam sendiri atau justru sangat tajut dengan Islam alias "islamophobia". Astaghfirullah...
Ini adalah upaya jahat musuh-musuh Islam untuk menjauhkan kita, terutama generasi muda muslim nih dari syariat-syariat Islam. Para musuh itu nggak pernah diam ketika melihat gelombang hijrah yang makin besar. Mereka punya ide ampun "sekulerisme" (pemisahan antara agama dengan kehidupan) yang diturunkan pada isu radikalisme ini.
William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan PM Inggris mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasasinya selama di dalam dada pemuda-pemuda Islam bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu tanamkanlah ke dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”
Jadi, udah ngga heran lagi kan kalau akhirnya maksiat dianggap biasa, sementara taat syariat dianggap sebagai ancaman nyata. Anak muda seperti kita udah harusnya bersikap kritis, ngga hanya manut dan percaya begitu saja dengan semua hal yang diisukan oleh media. Kita juga butuh mengkaji Islam biar ga gagal paham dengan Islam, sampe-sampe takut dengan syariat Islam.
Tunjukkan keberpihakanmu, pada Islam atau yang lainnya!
Salam opini muda!
Tetapi lama-lama tangan juga ngerasa malu, para musuh Islam terus menyerbu tetapi masih saja jemari tak bergerak untuk maju.
Bismillahirohmanirohiim..
Salam opini muda!
Ngobrolin fenomena yang lagi anget nih, soalan "RADIKAL".
Pasti udah tau lah ya penduduk dari sabang sampe merauke, bahkan sampai ke negeri antah brantah perkara kampus-kampus yang 'dituduh radikal' dan diisukan sebagai hal yang sangat mengkhawatirkan, salah satunya yang masih panas nih disebutkan sebanyak 22% mahasiswa UNEJ terpapar radikalisme (www.liputan6.com). Ngga cuma UNEJ sih, Setara Institute juga menyebutkan bahwa ada 10 kampus di Indonesia yang terpapar radikalisme (tirto.id). Nah, sebenernya apa sih radikalisme itu kok jadi bahasan diberbagai kampus?
terdapat 10 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia terpapar paham Islam radikalisme
Baca selengkapnya di artikel "Setara Institute Sebut 10 Kampus Terpapar Paham Radikalisme", https://tirto.id/d9nh
Baca selengkapnya di artikel "Setara Institute Sebut 10 Kampus Terpapar Paham Radikalisme", https://tirto.id/d9nh
terdapat 10 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia terpapar paham Islam radikalisme
Baca selengkapnya di artikel "Setara Institute Sebut 10 Kampus Terpapar Paham Radikalisme", https://tirto.id/d9nh
Baca selengkapnya di artikel "Setara Institute Sebut 10 Kampus Terpapar Paham Radikalisme", https://tirto.id/d9nh
terdapat 10 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia terpapar paham Islam radikalisme
Baca selengkapnya di artikel "Setara Institute Sebut 10 Kampus Terpapar Paham Radikalisme", https://tirto.id/d9nh
Baca selengkapnya di artikel "Setara Institute Sebut 10 Kampus Terpapar Paham Radikalisme", https://tirto.id/d9nh
Oke.
Berangkat dari makna radikalisme sendiri. Sepertinya udah lumayan bosen nih telinga dengerin perkara ini. dari tahun ke tahun, penjualnya makin banyak, dijajakan di berbagai event dan tempat, termasuk di perguruan tinggi. Kata radikal nih di Indonesia sering di stigmatisasi negatif oleh media, sehingga kita perlu nih mengetahui apa sih radikal itu dan mengapa radikalisme ini selalu menjadi bahan pembicaraan yang hangat. Kita juga butuh memahami siapa sih yang dimaksud penganut paham radikal ini.
Radikal ini sebenernya bermakna akar atau mengakar, yang makna luasnya yakni mendasar, pokok, dan esensial. jadi kalau dipahami sebenarnya, dari secara makna pun tidak ada penunjukkan bahwa radikal bermakna positif ataupun negatif, ibaratnya dia ini ngga proton, juga bukan elektron (eaaaa). Nah disinilah, sesuatu yang netral itu akan bernilai positif atau negatif sesuai dengan sudut pandang orang yang menilainya.
Sekarang kita mikir coba, yang selama ini diisukan radikal siapa?
Pernah denger kalimat, "Heeeii, kamu sekarang kok makin rapet gitu sih hijabnya, jangan-jangan kamu sekarang ikut kajian ke masjid X ya. Hati-hati loh radikal."
atau pernah tau kalimat, "Ssstt, jangan ngomongin islam kalau lagi bahas politik gini. Dasar radikal!"
Nahh..sekarang ada ngga yang bilang gini, "Parah! Israel nih bener-bener radikal, orang tak bersalah teganya disiksa dan dibunuh."Jadi, dari beberapa statement kebanyakan orang hari ini, yang dipandang atau mendapat label "radikal" itu adalah Islam. Ya ngga? Ngerasain juga?
Berbagai event diselenggarakan dengan tema seputar penangkalan radikalisme, bahkan dimotori oleh pemerintah sendiri. Terlebih lagi, media juga selalu memberikan "framing jahat" soalan radikalisme dan Islam. Jadi sebenernya kalau kita teliti lebih dalam dan berpikir lebih kritis, akan kita jumpai bahwa isu radikalisme ini hanyalah sebuah propaganda musuh-musuh Islam untuk menjadikan Islam sebagai pihak yang tertuduh, sehingga Islam terkesan menyeramkan dan keras. Bahkan generasi muslim pun enggan mengkaji Islam dan ogah taat dengan syariat Islam karena termakan 'gorengan anget' radikalisme itu. Endingnya apa? Umat Islam justru semakin jauh dari syariat Islam sendiri atau justru sangat tajut dengan Islam alias "islamophobia". Astaghfirullah...
Ini adalah upaya jahat musuh-musuh Islam untuk menjauhkan kita, terutama generasi muda muslim nih dari syariat-syariat Islam. Para musuh itu nggak pernah diam ketika melihat gelombang hijrah yang makin besar. Mereka punya ide ampun "sekulerisme" (pemisahan antara agama dengan kehidupan) yang diturunkan pada isu radikalisme ini.
William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan PM Inggris mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasasinya selama di dalam dada pemuda-pemuda Islam bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu tanamkanlah ke dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”
Jadi, udah ngga heran lagi kan kalau akhirnya maksiat dianggap biasa, sementara taat syariat dianggap sebagai ancaman nyata. Anak muda seperti kita udah harusnya bersikap kritis, ngga hanya manut dan percaya begitu saja dengan semua hal yang diisukan oleh media. Kita juga butuh mengkaji Islam biar ga gagal paham dengan Islam, sampe-sampe takut dengan syariat Islam.
Tunjukkan keberpihakanmu, pada Islam atau yang lainnya!
Salam opini muda!


Komentar
Posting Komentar