Curhatku tentang Ide Ambyar #NoHijabDay

Gelombang hijrah dan hijab makin
mendunia, begitupun ‘setan’ yang menolaknya juga makin bingung mencari ide
tandingannya. Belum kelar isu “Berhijab itu tidak wajib”, sudah muncul lagi isu
jahat dehijabisasi. Beberapa hari terakhir ini, marak kampanye #Nohijabday. Isi
tagar ini didominasi oleh video dan foto para wanita yang melepas hijab yang dipakainya.
Tak cukup melepas hijab, sebagian dari mereka membakar hijab tersebut. Parah!
Bahkan beredar pula sebuah video aksi lepas hijab oleh Yasmin Mohammed
mendapatkan hampir 16 ribu likes dan 7.830 retweets. Namun sekarang twit
tersebut sudah dihapus (m.detik.com, 06/02/18).
Kampanye “No Hijab Day” digagas oleh komunitas Hijrah Indonesia.
Komunitas ini membuat laman acara “No Hijab Day” di facebook, media sosial terbesar
di dunia. Hijrah Indonesia menulis “Karena itulah, Hijrah Indonesia mengajak
Anda para perempuan Indonesia baik Muslim maupun bukan Muslim untuk meramaikan
#NoHijabDay dengan menayangkan foto foto Anda berbusana dengan nuansa Indonesia
dengan memperlihatkan kepala Anda tanpa memakai hijab/jilbab/ niqab/cadar/
kerudung dan semacamnya di akun media sosial Anda, baik instagram, facebook,
maupun twitter dan blog Anda dengan hashtag #NoHijabDay dan #FreeFromHijab pada
1 Februari 2020”. Menurut Hijrah Indonesia, alasan diadakannya kampanye ini adalah:
(1) Hijabisasi baru marak tiga dekade terakhir; Niqabisasi marak satu dekade
terakhir. (2) Tidak semua ulama, tarekat dan sarjana KeIslaman mendakwahkan dan
bersetuju dengan hijabisasi maupun niqabisasi. Pandangan mengenai batasan aurat
berbeda-beda. (3) Kita berdiam di rumah, berada di habitat, berkebutuhan,
bekerja, dan atau memiliki fisik, yang kesemuanya berbeda-beda. (4) Kebutuhan
vitamin D, terutama yang mendesak.
Pemahaman ‘ambyar’ yang diungkapkan
dalam laman Hijrah Indonesia ialah, “Kami hendak mengamalkan Islam yang sejati,
yaitu yang damai, dan welas asih sebagaimana sifat Allah [Ar-Rahman and
Ar-Rahim] yang dicurahkan kepada kita umat manusia, Islam sebagai rahmat bagi
seluruh alam. Kami juga hendak memelihara adab khas Nusantara “rukun agawe
sentosa”, yaitu berupaya menerima, mengakui, mengelola dan merayakan
kebhinekaan. Jikalau ada perbedaan pandangan, sikap, dan semacamnya, kami
berharap kita semua dapat menegakkan sikap sebagaimana kearifan Nusantara,
‘Melawan tanpa membawa pasukan untuk berkonfrontasi dan menjatuhkan; Menang
tanpa mempermalukan dan merendahkan lawan’.”
Melepas hijab atas dasar melepaskan diri
dari sebuah pengekangan dan mengatasnamakan islam damai yang mencintai
toleransi, ini jelas perilaku kebablasan. Bukan sekadar ide ‘ambyar’, tapi ini
adalah sebuah ide yang menyesatkan. Dimana dalam hal ini, tidak ada ikhtilaf
(perbedaan pendapat) tentang kewajiban menutup aurat bagi muslimah. Artinya, kewajiban
menutup aurat bagi para muslimah ini telah disepakati di kalangan para ulama
muktabar, sehingga tidak sepatutnya dipersoalkan kembali.
Ide jahat dan kampanye kebebasan
berhijab bagi muslimah merupakan sebuah ide liberalisme (kebebasan) yang
menjadi nafas ideologi Kapitalisme. Kapitalisme memiliki 3 pilar kebebasan,
yaitu kebebasan berakidah (keyakinan), kebebasan dalam kepemilikan, dan kebebasan
dalam bertingkah laku. Ide busuk kebebasan dalam menutup atau membuka aurat
bagi para muslimah ini jelaslah bagian dari ide kebebasan berperilaku yang
hanya akan menyengsarakan para muslimah di dunia dan juga di akhirat kelak. Sebuah
perilaku yang sangat tidak pantas mengotak-atik syariat untuk mencari sensari
demi tercapainya sebuah kepentingan.
Kampanye “No Hijab Day” ini bahkan dinilai
sebagai ajakan setan. Hal ini dikatakan Ustaz Willyuddin A.R. Dhani dari
Komunitas Cinta Tauhid dan Cinta Qur’an, Bogor. Ustaz Dhani yang juga aktivis
Islam Nasional ini berpesan, bahwa “No Hijab Day” adalah ajakan dari
setan-setan yang dari golongan manusia, dan jangan ikuti kampanye mereka,
karena sesungguhnya mereka itu hanya akan mengajak golongannya untuk menjadi
calon penghuni nereka”, kaya Ustaz Dhani kepada MySharing melalui keterangan
tertulisnya, Kamis (30/1).
Sebagai seorang yang beragama Islam,
tentulah sudah menjadi kewajiban untuk mengadopsi apapun yang berasal dari
sumber hukum Islam, bukan malah asal tafsir dan mengadopsi pemahaman liberal.
Suatu pemahaman yang keliru dan sesat jika seorang muslim berperilaku sesuka
hati tanpa memperhatikan bagaimana aturan dari Penciptanya. Perintah untuk
menutup aurat jelas tertulis di dalam Al-Qur’an dalam Surah An-Nuur ayat 31 dan
Surah Al-Ahzab ayat 59. Tak ada keraguan dan perbedaan di tengah ulama’
muktabar terkait kewajiban ini.
Tak ada posisi abu-abu. Jika bukan
putih, maka hitamlah pilhannya. Tak ada posisi tengah-tengah, yang ada hanya
kiri atau kanan. Sebagai seorang muslim/muslimah, suidah selayaknya kita
tunjukkan keberpihakan kita. Ketika syariat Islam diolok-olok, disalah artikan,
maka betapa tidak pantas jika kita hanya diam berpangku tangan. Ide ‘ambyar’
dan sesat ini harus kita lawan! Siap,
kawan?


Siap lawan Liberalisme, keambyaran dan kesesatan.. Allahu Akbar ✊🏻✊🏻✊🏻
BalasHapus