Tunas Bangsaku
Tunas adalah bagian terpenting dalam sebuah pohon kelapa. Jika
tunas tumbuh baik, maka buah kelapa dan pohon kelapa pun akan ikut baik, karena
tunas adalah cikal bakal sebuah kehidupan tanaman kelapa. Ternyata filosofi
tunas itu bukan hanya sekedar filosofi yang tak berarti. Tunas-tunas yang
menjadi cikal bakal sebuah kehidupan yang lebih baik itu adalah kita, sebagai
generasi muda.
Generasi muda adalah tunas bangsa, yang bisa memberikan perubahan
baru dalam tatanan kehidupan. Generasi mudalah yang akan membawa rantai
kehidupan ini menuju ke jalan yang lurus ataupun berbelok. Maka tunas-tunas
bangsa ini perlu dipersiapkan mulai dari akhlak, mental, hingga semua potensi
yang ada padanya. Muda adalah salah satu masa dimana sesorang bisa merancang
dan berusaha mewujudkan semua mimpi dan cita-citanya. Baden Powell sebagai
Bapak Pandu Dunia pun mulai meniti langkah dan semangatnya sejak muda hingga
masa tuanya pun semangatnya masih tetap membara.
Namun sayang, fakta pemuda sekarang sangatlah mengerikan. Budi
pekerti dan akal sehatnya pun terkadang tak diperhatikan. Berbagai tindakan
remaja mengakibatkan kerusakan dan kehancuran di negeri ini. Sikap tak acuh dan
menutup mata dengan permasalahan itu pun jadi salah satu biang berkurangnya
pola pikir kritis dalam jiwa pemuda. Rendahnya akhlak mulia menjadikan mereka
lupa dan berbudi luhur sangat jarang dilakukannya. Pendidikan tinggi terkadang
mereka habiskan hanya untuk berkawan dan bersenang-senang dengan kehidupan
hedonis sekarang, tanpa mereka pikirkan jerih payang ayah dan bunda membiayai
pendidikan. Semua mereka abaikan dan mereka sia-siakan begitu saja.
Era masa kini telah membuat tunas-tunas bangsa ini menjadi tunas
yang terlihat kokoh namun keropos. Mereka tergerus dalam arus globalisasi yang
semakin hari semakin mengancam pemuda-pemudi negeri ini. Kepribadian mereka
mulai hilang seperti tertelan bumi. Budi pekerti luhur yang menjadi ciri khas
bangsa ini kini pun jarang dijumpai. Belum lagi gaya dan budaya masa kini tak
mencerminkan pribumi lagi. Tunas-tunas unggulan lokal pun sering diekspor dan
menjadi warga negeri tetangga dengan ikatan beasiswa prestasi. Tidak hanya
berhenti disitu, kehidupan serba mewah dan mencintai dunia kini semakin
mendarah daging di kalangan tunas-tunas bangsa yang seharusnya menjadi tonggak
peradaban emas Indonesia, bahkan dunia.
Salah satu cara menngokohkan kembali tunas muda bangsa ini adalah
dengan melalui pendidikan agama dan karakter pada setiap individu melalui
proses berfikir. Berfikir menyeluruh dan cerdas adalah cara yang sangat tepat
untuk menyadarkan individu untuk menjadi pribadi yang berbudi pekerti dan berakhlak
mulia. Dalam hal ini, perlulah pembimbing yang terpercaya dan benar-benar
menguasai agama dan karakter mulia yang sesungguhnya. Buah tak akan pernah
jatuh jauh dari pohonnya, begitulah yang terjadi pada tunas bangsa yang
dibimbing guru mereka. Jika pembimbing adalah sosok yang benar-benar berbudi
luhur, menguasai agama dan memberikan contoh dengan baik, maka yang
dibimbingnya pun secara alamiah akan menggunakan akalnya untuk berfikir dan
mulai bertindak untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan berbudi luhur.
Dalam hal mewujudkan pribadi luhur tunas bangsa ini, wadah untuk
menuangkan kreatifitas dan pengembangan diri juga sangat dibutuhkan. Jika Baden
Powell dahulu telah mencetuskan Kepanduannya, maka saat ini para pemuda dapat
menuangkan kreatifitas, mengukir pengalaman, dan megembangkan kepribadian dalam
Kepanduan tersebut, yang biasa kita sebut Pramuka (Praja Muda Karana). Dalam
Pramuka, pemuda bisa saja menjadi pribadi yang berbudi luhur namun bisa juga
menjadi pribadi yang bebas dan tak teratur. Semua itu adalah sebuah pilihan
yang terkadang para pemuda tak berpikir logis dan panjang dalam memilih suatu
jalan karena keambisiusan mereka dalam melakukan tindakan.
Tindakan para pemuda memang harus diarahkan agar selalu dalam
koridor yang sesuai aturan. Jika terlalu bebas tanpa batas, jelas saja akan
menyebabkan berbagai kerusakan dan kehancuran. Pergaulan antarindividu pun
sangat mempengaruhi perkembangan mereka. Dalam hal ini, setelah ada kesadaran
dan pola pikir yang benar tertancap pada diri pemuda, perlulah ada kontrol
sosial dari lingkungan dan kawan di sekitarnya. Sama-sama melek dengan
fakta dan bersikap peduli terhadap sesama. Dengan inilah kehidupan harmonis dan
budi pekerti luhur bisa selalu terjaga.
Tak cukup hanya saling kontrol antara satu dengan lainnya, tapi
juga perlu adanya sanksi-sanksi tegas dalam sebuah organisasi, lingkungan, atau
lingkup yang lebih luas. Sanksi tegas itulah yang secara tidak langsung ikut
berkontribusi dalam mewujudkan terbentuknya budi pekerti luhur dan akhlak mulia
dalam diri tunas-tunas bangsa ini. Sanksi yang tegas itu pula yang akan
senatiasa mencegah pelanggaran dan membuat jera pelaku yang melanggar aturan.
Jika tidak dilakukan demikian, tentulah pemuda tak akan takut untuk melakukan
tindakan-tindakan ambisiusnya meskipun tak sesuai dengan aturan-aturan yang
ada.
Demikianlah beberapa hal yang dapat membangkitkan tunas-tunas
bangsa yang saat ini sedang tertidur, atau bahkan tak sadar diri. Dengan adanya
kesadaran individu melalui berfikir, kontrol sosial dari kawan dan lingkungan,
serta adanya sanksi yang tegas dan bersifat mencegah, maka tunas-tunas bangsa
ini bisa menjadi tunas-tunas emas yang berbudi luhur dan berakhlak mulia.
Dengan budi luhur dan akhlak mulia, cita-cita dan prestasi cemerlang pun tentu
bisa dicapainya.
Semangat pemuda!!



Komentar
Posting Komentar