Pendidikan Sekolah Payah, Ilmu Melenceng Parah
Kurikulum 2013. Kurikulum yang tak asing lagi di negeri kita.
Kurikulum baru yang disusun pemerintah sebagai pengganti kurikulum KTSP 2006
silam. Kurikulum yang -kata pemeritah- bertujuan untuk meningkatkan keaktifan
siswa dan membuat siswa untuk berpikir cerdas dengan metode pembelajaran guru
hanya menerangkan gambaran umum dan memberi tugas, kemudian siswa yang aktif
mengembangkannya sendiri dan mempresentasikan kepada teman sekelasnya. Kini,
kurikulum baru kita ini hampir berumur 2 tahun, namun apa yang diharapkan pemerintah
tersebut malah justru berdampak buruk bagi siswa. Bagaimana ini bisa terjadi?
Otak
dan fisik lelah, pelajaran melenceng parah
Tugas
bejibun, jiwa tekanan batin. Belum lagi presentasi, bikin pusing tujuh
keliling. Apalagi ditambah pelajaran di buku yang menjauhkan siswa dari
kebenaran. Hal ini terpapar jelas pada buku “Penjaskes Kelas XI” halaman 129
pada kalimat “Gaya Pacaran yang Sehat”.
Dalam
buku tersebut dijelaskan maksud dari kalimat itu. Sehat fisik artinya tidak ada
kekerasan fisik, dilarang saling memukul, menampar dan menendang. Sehat
emosional artinya hubungan harus terjalin baik dan nyaman, saling pengertian
dan keterbukaan. Harus mengenali emosi diri sendiri dan emosi orang lain. Harus
mampu mengungkapkan dan mengendalikan emosi dengan baik. Sehat sosial artinya
bahwa pacaran tidak boleh mengikat, dimana hubungan sosial dengan orang lain
harus tetap dijaga agar tidak terasa asing di lingkungan sendiri. Dikatakan
bahwa tidak baik jika menghabiskan waktu seharian penuh dengan pacar. Sehat
seksual, artinya harus saling menjaga, tidak melakukan hal-hal yang berisiko
apalagi melakukan hubungan seks. Ditambah lagi ada embel-embel gambar seorang
laki-laki berjenggot dan perempuan berkerudung yang seolah-olah ingin
menyampaikan hal tersebut adalah pacaran islami.
Tips
Pacaran Sehat Merusak Pemahaman Umat
Dalam
kalimat “Pacaran Sehat” yang terpapar nyata tertulis di buku Penjaskes kelas XI
ini menjelaskan bahwa pacaran bukanlah suatu hal yang dilarang dan
membahayakan. Bahkan dengan adanya kalimat “Tips Pacaran Sehat” ini justru akan
mendorong siswa akan berpikir bahwa pacaran itu adalah suatu yang dilegalkan
pemerintah dan tidak memikirkan dosa yang ditanggungnya.
Coba
kita detili Q.S.Al Isra’ 17:32, “Janganlah kalian mendekati zina...”
Dalam
ayat di atas sangat jelas bahwa mendekati zina adalah perbuatan yang dilarang
oleh Islam, jika dilakukan akan
menimbulkan dosa. Apakah pacaran mendekati zina?
Dalam
pacaran, pastilah semua kegiatan si doi bersama gebetannya merupakan kegiatan
yang mendkeati zina. Mulai dari berpegangan tangan, berboncengan, berciuman,
dan kegiatan tidak sehat lainnya yang berujung pada zina.
Padahal dalam Islam laki-laki dan perempuan
harus menjaga pandangan, menutup aurat, tidak boleh berdua-duaan (khalwat),
tidak campur baur (ikhtilat), dan tidak menampakkan perhiasan/kecantikan
perempuan kecuali di hadapan laki-laki mahram. Interaksi keduanya hanya dalam
persoalan yang dibolehkan oleh Syara’ seperti pendidikan, kesehatan, maupun jual
beli. Tidak dibenarkan interaksi keduanya sekedar hang out bareng,
ngobrol kesana-kemari, bercanda, rekreasi bareng dan aktivitas lain yang tidak
ada udzur Syar’i.
Banyak yang menganggap Islam hanya sekedar
sebuah agama ritual, hanya mengurusi persoalan ibadah seperti shalat, zakat,
puasa dan haji. Padahal Islam juga mengatur persoalan politik, pendidikan,
kesehatan, ekonomi, sosial budaya termasuk persoalan interaksi antara laki-laki
dan perempuan.
Ketika Islam hanya dipahami sebagai agama
ritual saja, maka kemudian Islam akan dicampakkan dari pengaturan kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Seperti hal nya saat ini, Islam tidak dijadikan
sebagai sebuah sistem politik. Maka, wajar jika banyak hal yang bertentangan
dengan Islam. Termasuk materi belajar dalam kurikulum pendidikan 2013 yang saat
ini digemborkan. Inilah upaya sekulerisasi di bidang pendidikan yang merusak
pemikiran umat secara tersistem dan tersusun rapi.
Islam Punya Solusi
Sebenarnya,
Islam tidak hanya sebuah agama yang mengatur ibadah ritual saja, melainkan
sebuah ideologi yang bisa mengatur seluruh aspek kehidupan ini.
Seperti
pada kasus dunia pendidikan di atas yang akan merusak anak cucu kita kelak.
Jika standart dan acuan yang dipakai adalah Islam, pastilah semua keputusan,
ketetapan, dan tindakan pemerintah akan berdampak baik bagi seluruh alam,
karena Islam berasal dari Dzat yang menciptakan manusia, jagat raya, dan
kehidupan. Sehingga Dzat Pencipta itu adalah yang Maha Mengetahui segala
urusan.
Syari’at
Islam sesungguhnya memuliakan kita, namun terkadang manusia tidak sadar dan
menafikkannya dari kehidupan. Wajar saja jika banyak terjadi kerusakan dan
kemunafikan di bumi yang sudah rapuh ini.
Untuk
mengatasi masalah-masalah tersebut, Islam memiliki 3 pilar yang harus dipenuhi
dan diterapkan dalam kehidupan ini. Pertama, setiap individu harus meningkatkan
keimanannya dan senantiasa mendekatkan diri kepada Rabbnya sehingga mereka
dapat mencegah dirinya dari jebakan kemaksiatan. Kedua, kontrol sosial dari
masyarakat. Masyarakat harus senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar, sehingga
ketika kemaksiatan terjadi, masyarakat harus menolaknya. Pilar yang ketiga
adalah negara yang menerapkan hukum Islam dalam setiap pengambilan putusan,
bukan membuat peraturan sendiri sesuka manusia. Negara sebagai pelaksana syari’at
Islam mampu mewujudkan suasana iman di tengah masyarakat yang beragam. Dalam
urusan pendidikan, negara pun harus berbasis akidah Islam agar dapat
mencetuskan generasi-generasi penerus yang hebat, sholeh/sholehah, serta
berpola pikir dan berpola sikap sesuai hukum Islam sehingga dapat mewujudkan
masa depan yang mulia.
“Wahai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaaffah
(keseluruhannya), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah 2: 208-209)
Penerapan
Islam secara kaaffah dengan 3 pilar ini akan mampu mewujudkan peradaban yang
gemilang di semua lini kehidupan.



Komentar
Posting Komentar