Muslihat Kaum Kafir





Diam-diam, perlahan namun tersistem. Itulah yang dilakukan para misionaris saat ini yang ingin menghancurkan Islam dari luar dan dalam diri kaum Muslim. Pemurtadan semakin hari semakin mengerikan. Mulai dari murtad fisik (keluar dari Islam) ataupun murtad pemikiran (beragama Islam tapi perilaku tidak mencerminkan Islam).
Coba kita tengok kembali jajaran artis yang dengan bangganya keluar dari Islam, Asmirandah contohnya. Berita tentang artis Asmirandah yang murtad (pindah agama) mengikuti jejak pasangannya yang juga artis, Jonas Rivanno. Murtadnya Asmirandah diketahui pers ketika beredar foto mereka berdua sedang melakukan doa kebaktian di sebuah gereja. Sebelumnya, Jonas sendiri sempat memancing emosi masyarakat Indonesia karena mengaku sudah muallaf (memeluk Islam) saat menikahi Asmirandah, tapi kemudian diralatnya sendiri dengan mengatakan, bahwa dirinya pernah menjadi muallaf (masuk Islam) lalu kembali ke agama lamanya. Kasus tersebut menunjukkan sekali lagi, bahwa modus pemurtadan melalui perkawinan memang menggejala.
Belum berhenti pada modus perkawinan, pemurtadan juga terjadi di lembaga pendidikan. Dalam hal ini, tidak sedikit muslim korban pemurtadan dilatari oleh kesalahan orangtua mereka menyekolahkan atau menguliahkan anaknya di sekolah atau di kampus milik non-muslim. Padahal, di institusi umum atau negeri yang muslimnya lebih banyak saja, kasus pemurtadan tidak sedikit ditemui.
Kita banyak saksikan pula di video investigasi yang beredar saat ini, seperti pembagian roti bertulis khas Kristen, kalung merpati, dan lain-lain, bahkan ada pula yang melakukan pembabtisan terselubung, bakti sosial yang di dalamnya dakwah sasaran empuknya kaum muslim yang miskin dan kurang terdidik.
Ada yang lebih ngeri lagi, yaitu pemurtadan secara pemikiran. Itulah yang saat ini semakin marak terjadi. Covernya muslim, tapi berisi pemikiran-pemikiran yang berasal dari agama lain yang justru akan menyesatkan muslim lain, bersikap anti-Islam, dan mendukung kekufuran.
Coba kita detili kutipan Samuel Zweimer, misionaris global, “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai seorang kristen. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar hawa nafsu (walaupun mereka muslim).” Mereka yang murtad secara pemikiran masih akan beragama Islam, namun perilakunya akan sangat jauh dari Islam. Inilah masalah besar yang terjadi di negeri kita ini.
Bayangkan saja jika masalah ini terus dibiarkan, apalagi dengan adanya RUU Kerukunan Umat Beragama yang dirancang oleh DPR. Umat muslim akan semakin terpuruk dan semakin terlarut dalam zona kekufuran ini.
Jika kita lihat memang RUU ini seakan-akan memberikan keadilan bagi seluruh agama di Indonesia, namun di sisi lain RUU ini akan menghambat dakwah kaum Muslim. Mengapa?
Dalam RUU di jelaskan bahwa mendakwahkan agamanya kepada orang yang sudah beragama lain itu dilarang. Coba kita lihat di satu sisi, RUU itu melindungi akidah Islam karena di dalamnya ada ketetapan larangan mendakwahi orang yang sudah beragama. Jadi ini merupakan jalan menjaga umat dari pemurtadan. Kemudian kita balik sisi lain, kita sebagai umat Muslim juga akan kesulitan untuk berdakwah kepada non Muslim, padahal Islam itu rahmatan lil ‘alamin yang wajib untuk disebarkan ke seluruh penjuru dunia, baik yang Muslim ataupun non Muslim.
Apalagi RUU ini ada kecendrungan pluralisme karena dalam pasal tersebut dinyatakan tidak boleh menganggap agama itu paling benar.Padahal kita tahu bahwa Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan.
Sudah Pasti, Islam Punya Solusi
Karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, maka jelas bahwa Islam punya solusi jitu untuk mengatasi masalah semisal ini. Namun saat ini banyak umat islam yang mengabaikan solusi-solusi Islam dan memilih solusi-solusi kufur yang ditawarkan oleh sistem kufur. Islam punya solusi yang terdiri dari 3 tahap.
Pertama, secara individual menguatkan aqidah, membentengi diri kita dan diri orang lain dan meyakini bahwa agama yang benar hanya Islam. Berpikir lalu menemukan bukti-bukti yang tak terbantahkan Islam itu benar, dan mencari alasan "kenapa aku harus jadi seorang Muslim?"

Kedua, berdakwah secara berjamaah, amar ma'ruf nahi munkar secara baik dan santun, baik mendakwahi umat kita sendiri atau umat lainnya. Dengan berjama'ah insyaAllah umat akan lebih tahan dan kuat terhadap segala bentuk pemurtadan yang terjadi,

Ketiga, dengan penerapan hukum Islam oleh negara, ini bentuk tertinggi dari perlindungan aqidah umat. Inilah solusi yang paling berefek bagi umat dan solusi dari masalah bejibun yang terjadi. Negara pun memfasilitasi kemudahan dakwah dan bahkan negara sendiri yang mengemban dakwah Islam, mengenalkan kebaikan Islam bagi semua.
Nah, fungsi ini yang belum dijalankan di Indonesia, negaranya tidak menjaga aqidah umat, alasannya "karena ini bukan negara agama". Bisa diartikan pula bahwa Muslim di Indonesia ini setengah-setengah, maunya dibilang beragama, tapi bernegara "tanpa agama".
Ketiga aspek ini adalah solusi nyata yang akan menyejahterakan kita, di dunia maupun di akhirat. Menuntut ilmu untuk mencari kebenaran Islam, berdakwah berjamaah untuk beramar ma’ruf nahi munkar, dan memperjuangkan Islam agar bisa terwujud dalam negara. ()


Komentar

Postingan Populer