WASPADA SIKAP KONSUMTIF! JADI LIFESTYLE DESTRUKTIF

 


Ironis! Ramadan yang merupakan bulan penuh berkah, harusnya kaum muslimin berbondong-bondong memperbanyak amal shalih, tapi hari ini justru memasuki akhir bulan Ramadhan justru sibuk meningkatkan konsumsi dan euforia menuju perayaan lebaran. Kaum muslimin tak banyak yang berlomba untuk i’tikaf di masjid atau memperbanyak sedekah, justru mereka sibuk memilih makanan dan pakaian di pertokoan bahkan rela berdesakan atau rebutan. Sebagian besar masyarakat Indonesia, selama Ramadan dengan berbelanja barang atau jasa lebih banyak dari bulan biasanya. Hal ini berdasarkan survei Populix yang menunjukkan pengeluaran konsumen Indonesia melonjak hingga 50% saat Ramadan.

Tak menjadi masalah jika masyarakat memang membeli barang atau jasa yang dibutuhkan. Namun yang terjadi hari ini bukanlah demikian, tetapi masyarakat seperti kabur pandangannya dalam menilai mana kebutuhan dan keinginan. Konsumsi barang atau jasa sudah menjadi bagian dari lifestyle di tengah mereka hingga lebih tepatnya disebut bahwa masyarakat sudah terjangkiti virus konsumerisme. Tentunya, perilaku konsumtif ini menyebabkan berbagai macam dampak buruk bagi kehidupan masyarakat.

Pertama, konsumerisme membuat masyarakat menjadi rentan terkena sakit mental. Mereka sibuk mengumpulkan barang demi eksistensi dirinya dan cenderung tidak peduli dengan kondisi sekitarnya. Masyarakat juga akhirnya memiliki ruang yang sempit untuk lebih kreatif dna inovatif dalam menyolusi berbagai masalah yang terjadi di masyarakat.

Kedua, konsumerisme menghasilkan limbah atau sampah yang sangat besar. Co-Founder dari Our Reworked World, Annika Rachmat menyampaikan data temuannya, yaitu sebanyak 33 juta ton tekstil yang diproduksi di Indonesia, satu juta ton di antaranya menjadi limbah tekstil. Dampak yang dihasilkan limbah fast fashion tidak main-main. Dibuktikan dengan data yang diperoleh Direktur Asosiasi Daur Ulang Tekstil Inggris, Alan Wheeler. Ia menyampaikan bahwa industri pakaian telah berkontribusi sebagai penyumbang polusi terbesar kedua di dunia. Ia juga menambahkan bahwa sebanyak 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca dihasilkan oleh industri tekstil di dunia (its.ac.id)

Ketiga, konsumerisme menjadikan kaum muslimin rentan melakukan pelanggaran syariat Islam. Mereka tidak bisa membedakan kebutuhan dan keinginan, sehingga mereka cenderung FOMO dengan berbagai trend yang ada. Bahkan parahnya lagi beberapa waktu yang lalu sempat viral mahasiswa yang terjerat pinjol hanya demi memenuhi lifestyle. Tak jarang juga ditemui generasi muda yang rela ‘menjual diri’ agar bisa memenuhi berbagai keinginannya, mulai dari barang branded hingga properti yang mereka impikan.

 

Lalu kenapa lifestyle konsumerisme ini menjamur?

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemahaman masyarakat hari ini telah bergeser tentang kehidupan dan makna bahagia. Masyarakat hari ini hidup dalam hegemoni Kapitalisme dengan azas sekulerismenya, sehingga memaknai kebahagian diukur dari materi. Dalam konsep kapitalisme, kebahagiaan itu didapatkan apabila seluruh keinginan bisa dipenuhi, dengan kata lain ukuran kebaikan hanyalah sebatas standar fisik atau materi. Wajar jika hal ini menyebabkan masyarakat merasa bangga atau bahagia ketika memiliki barang yang bagus, banyak, mewah, dan dipandang baik oleh masyarakat.

Barang akan bernilai ketika harganya mahal dan bermerek. Wanita dinilai cantik ketika kulitnya putih, mulus, tidak berjerawat, dengan segenap perawatannya yang mahal. Rumah akan dinilai bagus ketika punya banyak fasilitas, harganya mahal, bahan-bahannya juga bahan property terbaik. Semua hanyalah dinilai dari fisik semata. Sehingga wajar, jika standar fisik itulah yang dikejar oleh masyarakat dengan mengumpulkan barang dan bersikap konsumtif.

Faktor yang lain yang menyebabkan masyarakat cenderung berperilaku konsumtif yaitu adanya rangsangan-rangsangan yang menguatkan keinginan untuk memiliki barang yang ditawarkan. Sudah masyhur di tengah masyarakat berbagai marketplace dan sosmed dengan segudan iklan yang dikonsumsi secara sengaja atau tidak oleh masyarakat. Belum lagi dengan rangsangan di TV dan media sosial dimana para artis dan influencer memamerkan kekyaan mereka. Masyarakat semaki terpengaruh untuk mengikuti gaya para artis dan influencer yang sering mereka lihat.

Kita bisa melihat menjamurnya berbagia rubrik perumahan yang menyorot rumah-rumah mewah milik artis dan tokoh publik. Ada juga berbagai acara otomotif yang memajang kendaraan-kendaraan berharga mahal sehingga menyulut naluri para lelaki yang hobi dengan kendaraan. Tidak kalah menarik di hati masyarakat ruang gaya hidup yang mengupas seputar gaya hidup tokoh baik masalah kesehatan maupun kecantikannya. Semua ini dikonsumsi oleh masyarakat tiada henti. Akan menjadi sesuatu yang wajar jika akhirnya masyarakat mengikuti lifestyle sosok yang mereka lihat, atau menjadi rangsangan efektif yang melahirkan keinginan-keinginan untuk membeli produk-produk yang ada dalam acara tersebut. 

 

Kaum muslimin harus bijak berkonsumsi

Kaum muslimin sudah seharusnya hidup dan berperilaku terikat dengan syariat-Nya, termasuk dalam perilaku konsumsi yang termasuk pengelolaan kepemilikan harta. Terkait pengelolaan harta, Imam Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Muqaddimah ad-Dustur Pasal 132 menyatakan, “Pengelolaan kepemilikan terikat dengan izin Asy-Syari‘, baik pengelolaan dalam pembelanjaan maupun pengelolaan dalam pengembangan kepemilikan. Dilarang berlebih-lebihan, menghambur-hamburkan harta dan kikir.  Dilarang perseroan-perseroan kapitalis, koperasi dan semua muamalah yang bertentangan dengan syariah. Dilarang riba, menetapkan harga secara tidak wajar,  penimbuan, perjudian dan lain sebagainya” (Muqaddimah ad-Dustur, 2/33).

Sehingga budaya konsumtif, atau berlebih dalam mengkonsumsi barang, tidak memperhatikan kebutuhan atau keinginan bukanlah perilaku ideal sebagai seorang muslim. Justru perilaku ini harus dijauhi oleh kaum muslimin, agar hidupnya berkah dan produktif sesuai dengan syariat Islam. Kaum muslimin sudah selayaknya menyibukkan diri untuk memperbanyak amal shalih untuk mendapatkan ridho Allah SWT, bukan euforia menumpuk harta di dunia.

Wallahu ‘alam bisshowab.

Komentar

Postingan Populer