Terserah! Yang Peduli Hampir Hilang Arah

oleh : Aisyah Qusnul Khotimah
(aktivis muslimah, founder Ideo Media)


#IndonesiaTerserah menjadi satu tagar yang viral di jagad media sosial beberapa hari ini. Bahkan sempat menjadi perbincangan panas di Google Trend maupun di Twitter. Berbagai komentar para netizen, influencer, bahkan para ahli mewarnai sosial media hingga hari ini. Hashtag viral ini adalah ungkapan ketidakpuasan netizen maupun para tenaga medis yang kecewa pada kebijakan pemerintah dan masyarakat yang abai dengan kasus covid-19 di negeri ini. Topik ini menggema sejak Jumat (15/5/2020) setelah viral adanya kerumunan orang saat penutupan McD Sarinah dan adanya keramaian di terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta.

Berbagai pakar pun akhirnya angkat bicara. Veronica Adesla, psikolog klinis dari Personal Growth mengungkapkan, "Ini adalah ungkapan geram, frustasi dan kekesalan terhadap perilaku anggota masyarakat maupun kebijakan, yang dinilai tidak kooperatif dalam turut serta bahu membahu menghentikan pandemi covid-19. Geram dan kekesalan ini tampak diungkapkan dalam bentuk ungkapan sinis atau sarkastik," (detik.com).

Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Siti Zunariyah mengatakan, "Bisa jadi (ekspresi kekecewaan), karena nakes yang selama ini jadi garda terdepan, justru kurang mendapatkan pengakuan," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Minggu (18/5/2020) malam. Menurut dia, bentuk protes tersebut muncul karena kurangnya kepedulian dari masyarakat terkait bahaya covid-19.  Di sisi lain, pembicaraan mengenai "Indonesia Terserah" adalah bentuk perlawanan simbolik dari warga masyarakat. Menurutnya ini menjadi penanda kepercayaan pada para pemimpin yang mulai tergerus.

Dikutip dari Rachrecovery, seseorang dengan perilaku pasif agresif pada level tertentu meyakini bahwa situasi hanya akan menjadi lebih buruk jika orang lain mengetahui perasaan negatifnya. Oleh karena itu, mengungkapkannya dengan sikap dibanding kata-kata adalah pilihan terbaik baginya. Ungkapan terserah adalah salah satu bentuk cara untuk menarik diri dari diskusi dan percakapan (detik.com). Begitulah yang dialami para tenaga medis dalam menghadapi kondisi saat ini.

Kekecewaan para tenaga medis adalah sesuatu yang wajar karena mereka mulai kewalahan menghadapi covid-19 di negeri ini. Setiap hari mereka harus meninggalkan rumah dan keluarga untuk berjuang melawan covid-19, tapi sayangnya di sisi lain justru tidak ada dukungan penuh dari pemerintah. Hal ini terbukti dengan berbagai kebijakan yang tidak tegas dan terkesan plin-plan. Di tengah kondisi covid-19 yang kasusnya terus meningkat, pemerintah justru tidak serius membatasi aktivitas masyarakat di berbagai wilayah, bahkan wilayah yang termasuk zona merah.

17 Mei kemarin, Tunjungan Plaza Surabaya kembali ‘hidup’ di tengah pandemi corona (urbanasia.com). Tak hanya itu, beberapa mall di Solo pun juga ramai pengunjung, baik untuk sekadar berbuka puasa maupun berbelanja keperluan lebaran (solopos.com). Roxy Square Jember pun tak kalah ramai pada hari Minggu (17/5/2020) kemarin hingga video dan beberapa fotonya viral di media sosial. Tentu saja kondisi ini membuat para tenga medis semakin kecewa dan marah sebab perjuangannya setiap hari terasa seperti tak dihargai. Sayangnya, sampai saat ini pun belum ada tindakan tegas dari pemerintah sendiri untuk menertibkan berbagai pusat kerumunan orang yang berpotensi untuk meningkatkan kasus covid-19 di negeri ini.  

Sulit dibayangkan jika para tenaga medis sudah berkata “terserah” sebab kekecewaan yang parah. Hingga saat ini tercatat ada 18.010 kasus postif covid-19 per 18 Mei 2020.  Belum lagi prediksi kenaikan kasus pasca lebaran karena arus mudik yang tak bisa dibendung.  Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono mengatakan bahwa efek dari mobilitas atau pergerakan masyarakat di tengah pandemi covid-19 sangat berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah kasus di wilayah lain pulau Jawa non-Jakarta.

Pandu mengatakan bahwa hasil pemodelan data estimasi kumulatif kasus akibat mobilitas penduduk ini dihimpun oleh Pandu dan timnya berdasarkan data utama terkait orang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) yang melakukan mudik lebaran ke provinsi Jawa lainnya. Estimasi kasus puncaknya (24/5/2020) akan mencapai 40.000 saat warga Jabodetabek melakukan mudik ke wilayah pulau Jawa diluar Jakarta (tribunnews.com). Tentunya hal ini membuat para tenaga medis semakin putus asa dan kehilangan arah, karena perjuangan mereka menangani covid-19 tak diimbangi dengan tindakan tegas pemerintah untuk menekan penularan melalui pembatasan aktivitas sampai kondisi benar-benar aman. 

Indonesia Terserah' Jadi Trending, Bukti Tenaga Medis Sudah ...
sumber gambar : wartakepri.co.id

Kepercayaan para tenaga medis maupun masyarakat yang peduli kepada pemerintah kini mulai luntur bahkan hilang. Kekecewaan bertubi-tubi menghampiri. Berbagai permasalahan tak ditangani dengan serius, bahkan rela mengorbankan banyak nyawa hanya demi kepentingan dunia atau materi semata. Beginilah karakter pemimpin yang tercetak dalam sistem Kapitalisme, sistem yang hanya berorientasi pada perkara materi, bukan kemaslahatan umat. Padahal, nyawa adalah sesuatu yang sangat berharga dan harusnya dilindungi oleh negara, bukan justru dikorbankan demi kepentingan lainnya.

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Begitulah Islam yang sangat memanusiakan manusia. Adanya negara dalam Islam ialah sebagai perisai yang melindungi segenap warga negara. Pemimpin di dalam Islam adalah pelayan umat yang senantiasa memberikan layanan dan perlindungan terbaik untuk rakyatnya. Maka, inilah solusi terbaik yang harus kita ambil untuk menyelesaikan permasalahan di tengah pandemi ini. Hanya dengan Islam, nyawa manusia akan benar-benar berharga dan mulia.
Wallahu'alam..

sumber : https://cendekiapos.com/oase/terserah-yang-peduli-hampir-hilang-arah-6792

Komentar

Postingan Populer