WASPADA UPAYA LIBERALISASI PEREMPUAN ATAS NAMA AGEN PERDAMAIAN



Oeh : Aisyah Q.K (Aktivis, Founder Ideo Media)

Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan dan perdamaian dunia selalu menjadi harapan. Isu perdamaian seakan menjadi mimpi indah setiap bangsa yang digencarkan dengan harapan mampu menyelesaikan permasalahan pelik di berbagai belahan dunia. Indonesia, salah satu negara yang mengikrarkan diri untuk berperan dalam mewujudkannya seperti yang tertuang dalam UUD 1945. Pada tanggal 25 Januari 2020 kemarin, Indonesia dan Malaysia pun membahas isu perdamaian ini. Kedua negara ini akan terus mempererat kerjasama dalam rangka memperkokoh moderasi beragama (wasathiyyah) dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara dan di dunia. Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid mengatakan bahwa peran Indonesia dan Malaysia sangat penting untuk menghadapi gelombang kembalinya eks kelompok ISIS ke negara-negara asal (akurat.co).
Isu perdamaian yang dicanangkan di berbagai negara ini bernafaskan moderasi beragama, atau istilahnya islam moderat. Islam moderat digambarkan sebagai lawan dari Islam radikal. Rand Corporation dalam “Building Moderate Muslim Networks” menjelaskan karakter Islam moderat, yakni mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM (termasuk kesetaraan jender dan kebebasan beragama), menghormati sumber hukum yang non sekterian, dan menentang terorisme. Robert Spencer, analis Islam terkemuka di AS menyebut kriteria seseorang yang dianggap sebagai muslim moderat ialah menolak pemberlakuan hukum Islam kepada non muslim, meninggalkan keinginan untuk menggantikan konstitusi dengan hukum Islam, menolak supremasi Islam atas agama lain, menolak aturan bahwa seorang muslim yang beralih pada agama lain (murtad) harus dibunuh, mendorong kaum muslim untuk menghilangkan larangan nikah beda agama dan lain-lain.
Salah satu motif besar Barat menyebarkan isu perdamaian dan islam moderat yaitu untuk mencegah kebangkitan Islam kaffah. Barat sengaja membuat narasi yang menyudutkan perjuangan Islam kaffah, mencegah tegaknya peradaban Islam dengan berbagai isu atau gambaran buruk penerapan Islam, dan mempertahankan hegemoni kapitalismenya dengan penjajahan pemikiran yang terus mereka gencarkan. Hal ini akan mudah mereka capai jika kaum muslimin jauh dari Islam dan gambaran yang benar tentang Islam.
Islam moderat ala Barat yang dibungkus isu perdamaian ini menjadi proyek bersama di setiap negeri jajahan Barat. Berbagai elemen berusaha digandeng untuk mewujudkan proyek perdamaian dunia ini, salah satunya adalah perempuan. Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi mengatakan bahwa kaum perempuan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menegakkan perdamaian dan keamanan dunia karena memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki, yaitu insting keibuan yang secara alami dapat menciptakan perdamaian dengan cinta, kepedulian serta harmoni (voa.com). Perempuan dalam hal ini dijadikan sebagai agen perdamaian atau dimoderatisasi agar mau digerakkan sesuai keinginan Barat dan menolak penerapan syariat dalam segala aspek kehidupan.
Perempuan memiliki peran strategis dalam keluarga. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan, “Radikalisme ini masalah ideologi, tidak cuma kepada orang biasa saja, semuanya bisa terpapar kalau kita tidak siap untuk menghadapi itu. Perempuan dan anak-anak sekarang juga sudah disentuh. Oleh sebab itu kewaspadaan harus ditingkatkan oleh ibu-ibu Bhayangkari,” ujar Suhardi dalam keterangan tertulisnya kepada Beritasatu.com. Kualitas generasi pun ditentukan oleh bagaimana didikan ibunya. Maka menjadi hal yang wajar pemikiran sang anak tak jauh dari pemikiran orang tuanya, terutama ibu. Ibu yang moderat dan jauh dari islam tentu saja akan menghasilkan generasi yang jauh dari Islam pula. Anak-anak akan dibebaskan dalam bergaul, berpakaian, beribadah, mengejar materi, bahkan mirisnya sampai dilarang terlalu mendalami agama Islam karena khawatir radikal. Para ibu lebih bangga ketika anaknya bersama pria yang bukan mahramnya daripada rajin ke masjid dan menutup auratnya. Mereka juga lebih suka melihat anaknya bergelimang harta dan hidup foya-foya daripada anak yang suka bersedekah dan berpenampilan sederhana. Mereka bahkan lebih suka anaknya pergi ke mall, bioskop, atau club malam daripada menjadi aktivis islam yang aktif di kampus dan masyarakat untuk menyuarakan kebenaran. Miris!
Perempuan juga memiliki peran strategis dalam sebuah negara. Menlu RI dalam acara Regional Training di Jakarta 8 April 2019 lalu, Retno LP Marsudi menyebutkan bahwa perempuan memiliki potensi yang sangat berharga untuk berkontribusi lebih banyak lagi dalam menegakkan perdamaian dan keamanan dunia. Perempuan bukan lagi fokus pada kegiatan rumah, tetapi juga didorong untuk aktif dalam berbagai aktivitas publik tanpa ada kekangan dari siapapun. Hal ini tentu akan mengalihkan peran perempuan sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga.
Potensi perempuan kini tengah dibajak oleh Barat mengatasnamakan agen perdamaian. Jika definisi perdamaian adalah moderat yang bertujuan untuk menghalangi tegaknya Islam, sedangkan perempuan adalah agen didalamnya, maka kehancuran generasi akan semakin menjadi-jadi. Generasi mulia di masa depan hanya akan menjadi mimpi dan yang terjadi hanyalah menjamurnya generasi liberal pengusung ide-ide Barat. Maka bukan saatnya lagi otak perempuan dicuci dengan ide perdamaian ala Barat, tetapi perempuan haruslah menjadi agen Islam kaffah yang siap melahirkan dan mendidik generasi mulia dalam peradaban yang gemilang di masa yang akan datang.
So, kita mau jadi agen perdamaian ala Barat atau agen Islam kaffah yang peduli dengan umat?


Komentar

Postingan Populer