Secuil Warna Kehidupan yang Hilang



Assalamu’alaikum wr. wb

Ohayo gozaimasu, Senin :)

Rasa yang beda mulai hadir. Bukan karena cinta, bukan karena kesibukan mengurus  sekolah. Sungguh, ini lebih dari itu..
Baru saja aku mengenalmu. Ya, baru beberapa bulan aku merasakan hangatnya kasih sayangmu sebangai kakak atau bahkan seperti ibu. Menularkan sejuta ilmu untuk kehidupanku dan teman-temanku. Dengan sabarmu, kau ajarkan kami kata demi kata rangkaian huruf hijaiyah yang tak berkepala. Tak jarang aku berulah, tak tepat waktu, atau tak memperhatikanmu, tapi wajahmu tetap cerah, tak pernah putus asa menghadapiku. Aku bertanya ini dan itu, kau selalu berusaha memberikan segudang solusi yang mungkin akan bisa menentukan pilihanku. Memang, ku temukan keluarga baru bersamamu.....

Ahad, 07 September 2014. Kau duduk di sampingku, tanpa ada teman yang lain. Entah kemana, mungkin mereka tak tahu pertemuan kali ini. Kucium tangan kananmu dan kau ucap salam hangat kepadaku. Kau mulai bercerita, satu demi satu kata terucap menceritakan semua alasan. Membisu. Aku hanya bisa mengucap satu atau dua patah kata saja. Ku mulai tak kuasa menahan air mata, tak kuasa berbicara, bahkan tak kuasa untuk memohon maaf kepadamu. Kau mulai merangkul hangat tubuhku, mengucapkan maaf atas semua yang kita lalui di masa lalu, tentang cara penyampaian ilmu untukku dan temanku, atau hal-hal lain yang engkau kira pernah menyinggung perasaanku atau temanku.
Tapi aku hanya diam. Mengucap maaf pun aku tak sempat kala itu. Hanya dapat menahan jatuhnya air dari indera penglihatanku. Aku hanya mengangguk tanda mengerti akan kepergianmu. Mungkin kita bisa dipertemukan kembali, tapi pastilah bukan dalam jangka waktu yang pendek. Ya, bukan waktu yang pendek :(

Ketika Allah mempertemukan seseorang, pastilah Allah juga merencanakan perpisahan di kemudian hari. Allah tahu mana yang terbaik dan Allah tahu jalan mana yang harus ditempuh. 

Perpisahan denganmu memang bukan sesuatu yang mudah. Kau yang terbiasa mewarnai hidupku telah merantau pergi. Kini sebagian warna kehidupanku telah pergi. Ya, inilah pilihan dalam hidup ini :)
Dulu ku rasakan kenyamanan beradaptasi denganmu. Tak lama, keakraban itu selalu kurindukan setiap akan bertemu. Dan semakin hari rasa sayang itu semakin besar. Memang, aku benar merindukanmu.
Kini, hijrah memang sudah menjadi pilihanmu dan mungkin itulah jalan yang terbaik untukmu dan keluargamu. Aku hanya bisa berdoa dan memohon kesejahteraan kepada Sang Khaliq dalam setiap langkahmu. Panji-panji kebenaran semoga tetap selalu kau kibarkan disana dengan lingkungan barumu.

Ini tak akan mungkin bisa mengungkapkan seluruh terima kasihku kepadamu atas seluruh ilmu yang kau tularkan kepadaku.  Biar ini menjadi segenggam bekalku untuk melanjutkan pencarian jati diriku yang mungkin akan kudapat beberapa genggam ilmu lagi dari seseorang yang akan menggantikan posisimu setiap seminggu sekali.
Setiap orang pasti tak sama. Seseorang yang menggantikanmu sebagai pembimbing langkahku kelak pastilah takkan sama denganmu. Hal yang wajar, karena Allah Maha Besar dan Maha Hebat telah menciptakan segala keberagaman di jagat raya ini. 

Ustadzah Navi, aku sungguh menyayangimu.. Pastilah begitu juga dengan Icha, Putri, atau dek Isti. Kami semua menyayangimu. Jazakillah khairan katsir untuk semuaaaanyaaaaJ Tetaplah menjadi penyemangatku, jangan bosan untuk memotivasiku, karena itu akan membuat panji dalam jiwa ini tetap berkibar dan terus berjuang dalam jalan ini.
Karena waktu begitu terbatas dan tak mungkin terulang, semoga Allah berkenan mempertemukan kita kembali di hari kemudian. Aamiin ({})

Tetap semangat Unul, ingat pesan mbak Navi biar bisa bahagia dunia dan akhiratnya.:)

Wassalamu’alaikum wr. wb

Komentar

Postingan Populer